| Aziz Amin | Wong Embuh |
Oleh: Aziz Amin | Wong Embuh
Belakangan ini saya sering mendengar orang berkata:
"Mental saya sedang tidak baik."
Ada juga yang mengatakan:
"Pikiran saya lagi penuh."
Sekilas terdengar sama, tetapi sebenarnya berbeda.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mencampuradukkan antara pikiran dan mental. Ketika terlalu banyak berpikir, mereka mengira mentalnya lemah. Sebaliknya, ketika mentalnya sedang turun, mereka menganggap masalahnya hanya ada pada pikiran.
Padahal keduanya berbeda, meskipun saling berkaitan erat.
Dalam perspektif Embuhisme, memahami perbedaan ini penting agar kita tidak salah mengobati diri sendiri.
Ketika Pikiran Terlalu Ramai
Pikiran adalah ruang tempat berbagai percakapan berlangsung.
Di sanalah kita mengingat masa lalu, merencanakan masa depan, membuat keputusan, bahkan menciptakan kekhawatiran yang belum tentu terjadi.
Masalahnya, pikiran sering kali bekerja tanpa mengenal jam kerja.
Saat tubuh ingin beristirahat, pikiran masih sibuk membuat skenario.
Saat kenyataan sudah selesai, pikiran masih memperpanjang cerita.
Saat masalah kecil muncul, pikiran mampu mengubahnya menjadi bencana besar.
Akibatnya, hidup terasa berat bukan karena kenyataannya, tetapi karena isi kepala yang terlalu ramai.
Di sinilah Embuhisme mengajarkan sebuah kebijaksanaan sederhana:
Tidak semua hal harus dipikirkan sampai tuntas.
Ada perkara yang memang perlu dicari solusinya.
Tetapi ada pula perkara yang cukup diterima keberadaannya.
Kadang kita lelah bukan karena hidup terlalu berat, melainkan karena pikiran terlalu cerewet.
Mental: Cara Kita Menghadapi Kehidupan
Jika pikiran adalah percakapan di dalam kepala, maka mental adalah kekuatan diri dalam menghadapi kenyataan.
Mental terlihat ketika harapan tidak sesuai rencana.
Mental diuji ketika kegagalan datang bertubi-tubi.
Mental berbicara ketika hidup tidak memberikan apa yang kita inginkan.
Orang yang mentalnya kuat bukan berarti tidak pernah sedih.
Bukan berarti tidak pernah kecewa.
Bukan pula berarti tidak pernah menangis.
Mental yang sehat justru membuat seseorang mampu merasakan semua emosi itu tanpa kehilangan arah hidupnya.
Ia boleh jatuh, tetapi tidak tinggal terlalu lama di bawah.
Ia boleh kecewa, tetapi tidak kehilangan harapan.
Ia boleh terluka, tetapi tetap memilih melangkah.
Dalam bahasa Wong Embuh:
"Ora popo sedih, sing penting ojo nganti nyerah."
Ketika Pikiran dan Mental Saling Mempengaruhi
Pikiran yang dipenuhi ketakutan akan melemahkan mental.
Sebaliknya, mental yang kuat membantu seseorang mengelola pikirannya.
Bayangkan ada dua orang yang menghadapi masalah yang sama.
Sama-sama gagal.
Sama-sama rugi.
Sama-sama kecewa.
Yang membedakan bukan masalahnya.
Yang membedakan adalah bagaimana pikiran dan mental mereka merespons masalah tersebut.
Ada yang melihat kegagalan sebagai akhir perjalanan.
Ada yang melihatnya sebagai bagian dari perjalanan.
Masalahnya sama.
Tafsirnya berbeda.
Dan sering kali hidup kita lebih dipengaruhi oleh tafsir daripada kenyataan itu sendiri.
Filosofi Embuh: Bukan Acuh, Tetapi Bijak Memilih
Sebagian orang mengira kata "embuh" berarti tidak peduli.
Padahal dalam Embuhisme, "embuh" bukanlah sikap masa bodoh.
Embuh adalah kemampuan memilih mana yang layak mendapatkan energi dan mana yang tidak.
Embuh adalah keberanian melepaskan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Embuh adalah seni menerima bahwa manusia tidak harus memahami segalanya.
Karena tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban.
Tidak semua masalah membutuhkan penjelasan.
Tidak semua kejadian membutuhkan perlawanan.
Kadang yang kita perlukan hanyalah berkata:
"Embuhlah, saya sudah berusaha. Sisanya saya serahkan kepada Gusti Allah."
Kalimat sederhana itu sering kali lebih menenangkan daripada seribu teori motivasi.
Sehat Pikiran, Sehat Mental
Dalam semangat Embuhisme, sehat pikiran bukan berarti tidak pernah memiliki masalah.
Sehat pikiran berarti mampu membedakan mana yang perlu dipikirkan dan mana yang cukup dilepaskan.
Sehat mental bukan berarti tidak pernah terluka.
Sehat mental berarti tetap mampu berdiri meskipun pernah jatuh berkali-kali.
Karena hidup tidak akan pernah benar-benar bebas dari masalah.
Tetapi kita bisa belajar agar tidak menjadi tawanan masalah.
Menjadi Wong Embuh
Menjadi Wong Embuh bukan berarti berhenti berpikir.
Bukan berarti menghindari tanggung jawab.
Bukan pula berarti menyerah pada keadaan.
Menjadi Wong Embuh adalah belajar hidup dengan lebih ringan.
Berusaha tanpa berlebihan.
Berpikir tanpa tenggelam.
Menerima tanpa kehilangan harapan.
Dan ketika ada hal-hal yang memang berada di luar kuasa manusia, kita cukup tersenyum dan berkata:
"Yang perlu dipikirkan, pikirkan.
Yang bisa diperbaiki, perbaiki.
Yang harus diterima, terima.
Dan yang tidak bisa apa-apa lagi...
Embuhlah."
Karena sering kali ketenangan bukan datang ketika semua masalah selesai.
Melainkan ketika kita berhenti memaksa diri untuk mengendalikan semua hal.
Salam Embuh.









