About Me

header ads

MENDADAK INGIN MENGEMBANGKAN BUKU AKU WONG EMBUH

Aziz Amin | Wong Embuh

Oleh: Aziz Amin | Wong Embuh

Belakangan ini saya sering mendapatkan pertanyaan sederhana dari teman-teman, peserta pelatihan, maupun pembaca tulisan-tulisan saya.

"Mas Aziz, kapan menerbitkan buku lagi?"

Awalnya saya hanya tersenyum. Embuh. Belum terpikirkan secara serius. Namun semakin banyak yang bertanya, semakin sering pula saya membuka kembali lembar demi lembar tulisan yang pernah saya bagikan. Catatan kecil tentang kehidupan, renungan selepas mengajar, pengalaman mendampingi orang-orang yang sedang berjuang dengan dirinya sendiri, hingga obrolan sederhana saat ngopi bersama sahabat.

Dari situlah muncul sebuah keinginan yang datang secara tiba-tiba, atau mungkin sebenarnya sudah lama bersemayam dalam hati: mengembangkan buku Aku Wong Embuh.

Buku ini bagi saya bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah identitas. Ia adalah cara pandang terhadap kehidupan. Ia adalah pengakuan jujur bahwa sebagai manusia, saya tidak harus selalu tahu segalanya.

Dalam dunia yang penuh tuntutan untuk terlihat pintar, hebat, sukses, dan selalu benar, menjadi "wong embuh" justru terasa menenangkan.

Bukan berarti tidak mau belajar.

Bukan berarti pasrah tanpa usaha.

Bukan berarti menyerah pada keadaan.

Tetapi menyadari bahwa ada banyak hal yang memang berada di luar kemampuan manusia untuk memahami dan mengendalikannya.

Semakin bertambah usia, saya semakin percaya bahwa kebijaksanaan bukanlah tentang memiliki semua jawaban. Kebijaksanaan justru sering lahir ketika kita berani mengakui keterbatasan.

"Embuh" bukan tanda kebodohan.

"Embuh" adalah tanda kerendahan hati.

Karena di atas segala pengetahuan manusia, masih ada ilmu Allah yang tidak berbatas.

Melalui pengembangan buku Aku Wong Embuh, saya ingin mengajak pembaca berjalan bersama dalam perjalanan sederhana menjadi manusia biasa. Manusia yang tetap berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk menerima. Manusia yang memiliki mimpi, tetapi tidak terobsesi. Manusia yang bekerja keras, tetapi tidak melupakan rasa syukur.

Buku ini nantinya tidak hanya berisi refleksi pribadi, tetapi juga berbagai pelajaran kehidupan yang saya dapatkan selama menjadi trainer, pendamping, hipnoterapis, fasilitator pembelajaran, dan tentu saja sebagai seorang pembelajar kehidupan.

Saya ingin menuliskan tentang:

  • bagaimana menghadapi kegagalan tanpa kehilangan harapan,
  • bagaimana menerima diri sendiri dengan lebih lapang,
  • bagaimana memaknai rezeki di luar angka-angka,
  • bagaimana tetap bahagia tanpa harus menjadi siapa-siapa,
  • dan bagaimana menemukan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Saya membayangkan buku ini menjadi teman perjalanan. Bukan buku yang harus dibaca sekaligus hingga selesai, melainkan buku yang bisa dibuka pada halaman mana saja, dibaca beberapa menit, lalu direnungkan sepanjang hari.

Jika buku pertama adalah perkenalan tentang siapa itu Wong Embuh, maka buku berikutnya akan menjadi perjalanan yang lebih dalam tentang bagaimana filosofi Embuhisme dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang menjadi yang paling hebat.

Bukan pula tentang menjadi yang paling terkenal.

Melainkan tentang menjadi manusia yang bermanfaat, bersyukur, dan mampu menikmati setiap proses yang diberikan Tuhan.

Maka jika suatu hari nanti buku lanjutan Aku Wong Embuh benar-benar terbit, sesungguhnya itu bukan hanya buku saya.

Itu adalah buku kita.

Buku tentang manusia-manusia biasa yang sedang belajar menjalani kehidupan dengan lebih ringan, lebih ikhlas, dan lebih bahagia.

Dan jika ada yang bertanya mengapa buku ini harus ditulis?

Jawaban saya sederhana.

Embuh. Tapi hati ini merasa harus menuliskannya.

Salam Embuh,

Aziz Amin | Wong Embuh